Posting Photo Jenazah Tadi seorang teman memposting saudaranya yang baru meninggal. Sebuah ucapan selamat jalan. Yang menarik, si kakak memposting photo cantik saudaranya semasa hidup. Dengan caption, Selamat Jalan menuju keabadian. Bagus kali kurasa kekgitu, dipilihnya photo kakaknya yang paling cantik daripada diposting photo jenazahnya. Dan itu tidak akan mengurangi bentuk rasa sedih dan kehilangannya. Kurasa, seandainya yang meninggal itu bisa lihat statusmu, terus diliatnya photo jenazahnya disebar di FB, IG atau WA, kesal kali dia. Kenapa lah photo yang itu yang dipajang? Pas hidup aja selalu photo yang paling bagus yang diposting. Ini tiba-tiba yang katanya teman dan saudara malah memposting photo yang udah terbujur kaku. Semacam ngga sopan kurasa. Yang nengok pun ngeri. Kalau lagi sedih dan kehilangan kalian, ngga usah lah diposting photo jenazahnya ya. Ngganya terus macam berduka kali kalian kalau punya kalian photo jenazahnya. Kasian yang m...
BERSYUKURLAH KAMU MASIH BISA MAKAN, BANYAK LOH DI LUAR SANA ORANG YANG TIDAK BISA MAKAN. Bersyukurlah kamu sehat, liat tuh orang-orang di RS itu, setiap saat mengerang kesakitan. Bersyukurlah masih punya ayah ibu, liat tuh orang di panti. Mereka bahkan tidak tahu siapa ayah dan ibunya. Ungkapan seperti ini sangat familiar di tengah kita. Ada banyak syukur yang terucap dengan membandingkan diri dengan kelemahan dan kekurangan orang lain. Aku juga pernah mengungkapkan hal ini dulu. Tapi semakin lama, kalimat ini semakin aneh kurasa. Seolah-olah kita bersyukur dengan kelemahan orang lain. Seolah harus lihat orang lemah atau berkekurangan dulu baru kita bersyukur dengan apa yang kita punya. Seolah-olah orang yang ini diberkati dengan berkat sehat, yang lain tidak. Dan dia bersyukur. Seolah-olah orang ini diberkati dengan berkat makan, orang lain tidak. Dan dia bersyukur. Tadi seorang teman bertanya, bagaimana ya kita mengajari anak supaya dia...