BERSYUKURLAH KAMU MASIH BISA MAKAN, BANYAK LOH DI LUAR SANA ORANG YANG TIDAK BISA MAKAN.
Bersyukurlah kamu sehat, liat tuh orang-orang di RS itu, setiap saat mengerang kesakitan.
Bersyukurlah masih punya ayah ibu, liat tuh orang di panti. Mereka bahkan tidak tahu siapa ayah dan ibunya.
Ungkapan seperti ini sangat familiar di tengah kita. Ada banyak syukur yang terucap dengan membandingkan diri dengan kelemahan dan kekurangan orang lain. Aku juga pernah mengungkapkan hal ini dulu. Tapi semakin lama, kalimat ini semakin aneh kurasa. Seolah-olah kita bersyukur dengan kelemahan orang lain. Seolah harus lihat orang lemah atau berkekurangan dulu baru kita bersyukur dengan apa yang kita punya.
Seolah-olah orang yang ini diberkati dengan berkat sehat, yang lain tidak. Dan dia bersyukur.
Seolah-olah orang ini diberkati dengan berkat makan, orang lain tidak. Dan dia bersyukur.
Tadi seorang teman bertanya, bagaimana ya kita mengajari anak supaya dia bersyukur tanpa melihat kelemahan orang lain terlebih dahulu.
Ada beberapa hal yang harus kita tekankan menurutku:
1. Anak diajari menghargai orang lain sebagai makhluk hidup ciptaan yang sama dengan dirinya.
2. Anak diajari bersyukur dengan apa yang dia punya. Fokus dengan hal baik yang dia miliki. Misalnya: Terima kasih Tuhan aku sehat. Terima kasih Tuhan untuk makanan minuman yang Tuhan sediakan. Terima kasih Tuhan untuk mama papa.
3. Anak diajari berempati dengan orang susah di sekitarnya. “Kasian ya adek kecil itu. Kira-kira ada ngga yang mau mengadopsi dia?” Sampai disitu aja bahasanya, jangan ditambah kalimat, “Kasian ya adek kecil itu. Makanya bersyukurlah kamu masih punya papa dan mama yang bla bla bla.”
4. Anak diajari bahwa semua manusia punya kelebihan.
5. Anak diajari berjuang supaya dirinya hebat dan kuat. Bukan supaya tidak seperti si A atau si B.
Contoh: Kamu harus belajar yang baik, supaya nanti bisa jadi Dokter, bisa punya ini dan itu.
Bukannya
“Kamu harus belajar yang baik, supaya nanti bisa jadi Dokter, bisa punya ini dan itu, ngga kayak si C itu, udah tua tetap minta ke orang tuanya.
Dengan begitu anak akan tumbuh menjadi pribadi yang menghargai apa yang dia punya dan tetap menghargai orang lain sebagai manusia ciptaan Tuhan tanpa merasa lebih baik dari mereka.
Mereka akan menjadi pribadi yang bersyukur tanpa harus melihat kelemahan dan kesusahan orang lain dulu.
Imelda Hutagalung
Medan, 22 Oktober 2023

Komentar
Posting Komentar