Ada banyak sekali keluarga yang berantakan karena hadirnya orang ketigaa.
Ahhh... kan masih lebih banyak orang yang setia pada pasangannya daripada yang selingkuh, tapi tetap berantakan. Berantem mulu. Benar.
Orang ketiga yang paling banyak dalam rumah tangga bukanlah ‘pria’ atau ‘wanita’ lain. Lalu siapa? KELUARGA.
Komentar-komentar dan penilaian yang disampaikan orang tua bahkan saudara-saudara dari keluarga sendiri maupun dari keluarga pasangan sering sekali membuat luka yang sangat menyakitkan dan mengakibatkan perang dalam sebuah rumah tangga.
Banyak pernikahan menjadi panas, tegang, selalu ribut karena campur tangan (jelek) dari pihak keluarga.
Membangun sebuah pernikahan itu seperti mendirikan sebuah negara baru. Karena itu seorang pria harus menjadi pemimpin negaranya. Dia harus mampu melindungi negara atau ‘keluarga baru’nya dari ‘keluarga mereka yang dulu’.
Apakah artinya sang anak melepaskan diri dari orang tua? Ya. Yang pasti dia harus mampu membuat batas-batas keluarga barunya. Dia harus punya wibawa dan mandiri.
Coba telisik, kenapa orang tua ikut campur? Sering sekali alasannya adalah karena si pemimpin keluarga baru ini tidak berwibawa memimpin negaranya sendiri. Tidak punya kemandirian yang membuat orang tua gemas dan ingin ‘membantu dan menolong’.
Si anak diam saja dan tidak mampu bertahan ketika keluarganya menyerang dan masa bodoh ketika pasangannya bertikai dengan keluarganya, “Ah, itu urusan keluarga dia.” Lalu dimana wibawanya? Atau tidak punya?
Sebuah negara harus punya otoritas sendiri dan peraturan sendiri. Demikian dengan keluarga. Bahkan harus punya pertahanan sendiri. Punya senjata cinta kasih dan komunikasi untuk melindungi keluarga kecilnya.
Kunci damainya pernikahan, bukan menunggu ibu, bapak, atau kakakmu berubah, tapi ketika kamu mulai berdiri membela keluarga. (Edward Suhadi)
Imelda Hutagalung
Sasada Kopi, 26 Juni 2023

Komentar
Posting Komentar